Jumat, 26 April 2013
Storiette : AAAARRRGGGHHHHH
Terima kasih cinta, untuk segalanyaKau berikan lagi kesempatan itu
Tak kan terulang lagi semua…
Kesalahanku yang pernah menyakitimu…
Syeila berlari tergopoh-gopoh menuju kamarnya di lantai dua, begitu dering handphonenya mengalun merdu ia segera meninggalkan tontonan One Piece kesayangannya. Dengan ngos-ngosan ia menjawab telepon.
“Wei La, loe dah selesein tugas dari Bu Ana, belom? Besok dikumpulin loh!”
“Tugas apaan sih, perasaan gak ada tugas deh”, jawab Syeila sambil mengungat-ingat tugas apa yang dimaksud Ian.
“Gila nih anak!!! Berarti loe belum ngelakuin apa-apa selama seminggu ini?” ujar Ian sedikit cemas.
“Yoi, emang ada tugas apaan sih Yan, kok kedengarannya panik gitu? Santai man…santai!”
“Gimana mau santai La, loe lupa kalo Bu Ana itu masuk dalam jajaran guru killer. Terus tugas yang gue maksud itu bikin teropong bintang. Apa loe sanggup ngerjainnya cuma semalem. He…?”
“A..PA??? Teropong bintang! OH MY GOD, gue lupa. Terus gimana dong?”
“Udah gue duga. Sekarang loe ganti baju nanti gue jemput”.
“ Mau kemana? Terus mama papa???”
“Itu urusan gue!”
KLIK, sambungan telepon putus.
Syeila tergulai lemas.Ia benar-benar lupa tugas yang diberikan Bu Ana.
FIUHHH!
Ia bergegas membuka lemari pakaian, menyabet sebuah celana jins biru, kaos lengan panjang cotton, dan sehelai jaket jins berwarna biru tua. Ia berlari ke kamar mandi dan mengganti pakaian. Tak berapa lama, Syeila mulai menyisir rambutnya yang pirang di depan meja rias, menguncirnya agak ke kiri. Walau tanpa riasan pun, ia sudah terlihat sangat cantik. Bahkan mungkin jika Syeila sudah berumur 18 tahun, cowok-cowok bakal antri buat jadi pacarnya. Sekarang saja, dia baru 14 tahun tapi sudah punya segudang penggemar, sayangnya semuanya takut karena Syeila anak seorang Jenderal di TNI-AL Bandung. Kan ngeri tuh!
Pimp…Pimp…
Syeila berjalan ke teras, tak lupa menyabet tas dan handphonenya. Membuka pintu teras dengan pelan dan menutupnya kembali. Semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Seperti biasa, Syeila memanjat pagar teras dan menuruni pagar tanaman yang ada di bawahnya. Lalu ia membuang sendalnya dan memasangnya lagi ketika menginjak tanah.
Bagaikan seorang pencuri handal, Syeila membuka pagar samping dengan kunci cadangan yang dimilikinya. Dan segera berlari ke motor Ian.
“Sorry, tadi gue kesusahan buka gembok pager. Sebenernya kita mau kemana sih?”
“Ke AUTICO, gak papa kan?” jawab Ian meyakinkan yang langsung disambut anggukan Syeila.
Begitu tahu tujuan mereka, Syeila segera naik ke motor. Ian menancap gas. Melawan angin malam yang begitu dingin menembus hingga ke tulang-belulang. Sedikit nyelip di tengah keramaian kendaraan lainnya, tapi terhenti oleh lampu merah. Namun itu bukan penghalang, Ian dengan tangkasnya ngebut setelah adanya aba-aba boleh jalan. Kurang lebih 15 menit, mereka telah sampai di tujuan.
Mereka masuk ke toko, bertanya pada mbak penjaga dimana letak rak lensa optic. Dengan senang hati mbak penjaga membimbing mereka ke lorong sebelah kiri yang berisi rak bag folder dan rak album foto. Mereka terus berjalan hingga lorong itu berakhir dengan jejeran rak lensa optic.
Ian mulai memilihkan lensa yang cocok untuk digunakan Syeila untuk teropongnya. Syeila cuma senyum-senyum melihat sahabatnya yang begitu semangat membantunya. Tidak sia-sia dia punya sahabat seperti itu. Ada di saat suka maupun duka. Benar-benar setia kan.
“ La kita ambil yang ini yah, supaya kamu gak terlalu repot dengan pipanya yang panjang, gimana?” Tanya Ian sambil memgang lensa yang dirasanya cocok untuk Syeila.
“Terserah, yang ngerti gituan kan elo!” jawab Syeila dengan senyum super manisnya, menampakkan kedua lesung pipinya.
“Yeee… udah dibantuin kok gitu sih?” Ian sedikit ngambek dengan sikap Syeila yang cuek bebek kayak gitu. Walau sebenarnya Syeila sama sekali tak bermaksud demikian, hanya saja dia belum kembali ke dunia nyata sepenuhnya karena begitu senang Ian mau membantunya.
“Sorry…sorry…deh!” masih dengan senyum sumringahnya Syeila meminta maaf dengan tulus.
“Mmm… sekarang kamu cari kap lensanya nanti aku yang bantu cari pipanya”, perintah Ian setelah melirik jam biru kesayangannya.
“Oke Bos!” jawab Syeila berlagak hormat bak seorang prajurit memenuhi perintah mayornya.
Ian sengaja membagi tugas karena waktu yang mereka miliki terlalu mepet. Apalagi sekarang ini benda yang melingkar di pergelangan tangan Ian sudah menunjukkan pukul 10:15 malam. Kalau mereka telat sedikit saja, toko bisa keburu tutup.
Lalu mereka berpencar menjalankan tugas masing-masing. Ian menuju rak pipa di bagian ujung tuku yang lain. Sedangkan Syeila hanya perlu melewati lorong antara rak lensa dan rak album untuk sampai di rak yang berisi kap lensa. Dengan panduan lensa yang dipegangnya, Syeila mulai memilih kap yang cocok.
“Kalau ini gimana mas?” ujar seorang wanita di lorong sebelah, mengegetkan Ian yang asyik memilih pipa.
“Boleh juga, tapi Gea kan minta yang warna pink kan Ma?”
“Oh iya, kalo gitu ke sana yuk!”
TIITH…
Syeila kaget bukan main, lampu di atas kepalanya tiba-tiba padam. Karen Syeila orangnya panikan ia langsung memanggil Ian.
“Yan…Yan… elo dimana? Gue takut nih” teriak Syeila sedikit meringis.
Entah mengapa Ian merasa Syeila memanggilnya, walaupun sedikit mustahil karena jarak mereka terlalu jauh. Ian bergegas mengambil potongan pipa yang akan dibelinya, lalu berlari ke tempat Syeila.
“Hei gimana, barangnya udah ketemu belum?” Tanya Ian wajar.
“Eh… iya udah kok. Yan loe kok lama banget, gue takut nih soalnya lampunya tiba-tiba mati”, jelas Syeila masih dengan raut wajah takut.
“Mati? Kok gue baru sadar sih? Eh..tunggu dulu, kok tokonya sepi? Jangan-jangan tokonya udah tutup?” ujar Ian mencoba membaca keadaan.
“Iih… jangan bilang gitu dong gue gak mau terkunci disini. Gak mau!!!” jelas Syeila dengan wajah cemberut.
“Iya, iya...tenang dulu dong. Kayaknya aneh deh kalau tokonya ditutup tanpa pemberitahuan. Ayo… kita check dulu ke depan”
Ian mengamit tangan Syeila. Rasanya sedikit dingin. Dan Ian tahu kalau Syeila orangnya penakut dan sekarang ia harus pandai membujuk Syeila agar tidak panic kalau-kalau mereka benar-benar terkunci di toko itu. Ketika mereka sampai di depan, Syeila benar-benar kaget sampai-sampai dia mengeluarkan teriakan yang begitu melengking.
“AAAAAAAAAAAAAAARRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH”
Author: RoseLind
Rose Lind is one of greatest dreamer in the world. Like ice cream, novel, and movies. Read More →
Related Posts:
storiette
Langganan:
Posting Komentar (Atom)













0 komentar:
Posting Komentar